Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meminta perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menyesuaikan kegiatan akademik bagi mahasiswa yang terdampak gempa bermagnitudo 7,7 pada Sabtu. Fleksibilitas tersebut diperlukan agar keselamatan sivitas akademika tetap menjadi prioritas tanpa menghentikan proses pendidikan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan perguruan tinggi perlu memastikan kondisi mahasiswa dan tenaga pendidik sebelum menjalankan kembali kegiatan pembelajaran secara normal. Menurutnya, keberlangsungan pendidikan harus disesuaikan dengan situasi darurat di masing-masing wilayah.
Kampus yang memiliki infrastruktur dan koneksi internet memadai didorong memanfaatkan pembelajaran jarak jauh atau metode alternatif. Penyesuaian juga dapat dilakukan melalui perubahan jadwal maupun penundaan aktivitas yang mengharuskan mahasiswa hadir di lokasi yang belum dinyatakan aman.
Kebijakan tersebut tidak hanya berlaku untuk kegiatan kuliah reguler. Perguruan tinggi diminta mempertimbangkan kondisi darurat dalam pelaksanaan praktikum, ujian, tugas akhir, penelitian, serta aktivitas akademik lainnya.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah mahasiswa mengalami kerugian akademik akibat kondisi bencana. Dengan penyesuaian yang tepat, mahasiswa tetap dapat mengikuti proses pendidikan sambil memperoleh waktu untuk memulihkan kondisi masing-masing.
Brian menegaskan keselamatan harus menjadi dasar utama sebelum kegiatan tatap muka kembali digelar. Kampus perlu memastikan fasilitas pembelajaran telah berada dalam kondisi yang layak dan tidak menimbulkan risiko bagi mahasiswa maupun tenaga pengajar.
Kemdiktisaintek juga akan berkoordinasi dengan perguruan tinggi serta pemangku kepentingan di daerah selama masa pemulihan. Koordinasi tersebut diarahkan untuk memperkuat respons kampus terhadap masyarakat yang terdampak sekaligus menjaga keberlanjutan pendidikan tinggi.
Gempa M7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu menjadi tantangan bagi aktivitas pendidikan di wilayah terdampak. Karena kondisi setiap kampus dan daerah berbeda, penyesuaian kegiatan akademik dapat dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan fasilitas, akses transportasi, kondisi jaringan komunikasi, serta faktor keselamatan lainnya.
Pemerintah berharap fleksibilitas tersebut dapat menjaga hak mahasiswa untuk memperoleh pendidikan sekaligus memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk memprioritaskan keselamatan selama proses pemulihan pascabencana.
Shama is a Content Specialist and News Writer with 4.5+ years of experience in journalism, press release writing, SEO content, and digital publishing. She covers business, technology, blockchain, cryptocurrency, finance, and corporate communications, delivering research-driven content for media platforms and global audiences.
