Duta Besar Jepang untuk ASEAN Yonetani Koji menilai batu bara masih memiliki peran penting dalam bauran energi di banyak negara Asia Tenggara. Karena itu, proses transisi menuju energi bersih dinilai perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing negara.

Dalam wawancara International Corner bersama ANTARA di Jakarta, Koji mengatakan setiap negara memiliki tantangan berbeda dalam memenuhi kebutuhan energi. Menurutnya, kebijakan transisi energi tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama karena tingkat ketergantungan terhadap sumber energi fosil masih bervariasi di kawasan ASEAN.

Ia menjelaskan bahwa pembangkit listrik berbahan bakar batu bara hingga kini masih menjadi penopang utama pasokan listrik di sejumlah negara Asia Tenggara. Oleh sebab itu, upaya menuju sistem energi rendah karbon harus dilakukan melalui perencanaan jangka panjang agar tidak mengganggu ketahanan energi maupun pertumbuhan ekonomi.

Koji menuturkan pendekatan Jepang terhadap transisi energi didasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu ketahanan energi, keterjangkauan biaya, dan keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, ketiga tujuan tersebut sering kali sulit dicapai secara bersamaan sehingga diperlukan kebijakan yang seimbang dan realistis.

Ia juga menyoroti meningkatnya perhatian terhadap isu ketahanan energi di tengah dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga pasokan energi yang stabil sembari terus mendorong pengurangan emisi karbon.

Sebagai bentuk dukungan terhadap transisi energi di kawasan, Jepang terus memperkuat kerja sama melalui inisiatif Asia Zero Emission Community(AZEC). Program ini bertujuan mempercepat upaya dekarbonisasi di Asia melalui kolaborasi teknologi, investasi, serta pengembangan energi bersih dengan tetap menghormati kondisi energi masing-masing negara.

Koji menegaskan bahwa target menuju net-zero emission harus dicapai tanpa mengabaikan kebutuhan pembangunan nasional. Menurutnya, setiap negara memiliki kecepatan transisi yang berbeda sehingga pendekatan yang fleksibel menjadi kunci keberhasilan transformasi energi di kawasan.

Di Indonesia, pemerintah menargetkan pencapaian emisi nol bersih pada 2060. Meski demikian, batu bara masih dipandang sebagai komoditas strategis yang akan dimanfaatkan secara lebih berkelanjutan. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara untuk menekan emisi karbon.

Selain itu, pemerintah juga mendorong hilirisasi batu bara menjadi produk bernilai tambah seperti Dimethyl Ether (DME) yang diproyeksikan menjadi alternatif energi rumah tangga yang lebih ramah lingkungan. Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung transisi energi sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.

+ posts
Kementerian PU Percepat Pengendalian Banjir Sungai Aek Sigala-gala di Tapanuli Tengah - BeritaEropa.com Previous post Kementerian PU Percepat Pengendalian Banjir Sungai Aek Sigala-gala di Tapanuli Tengah
Wali Kota Ceuta Desak Spanyol Perkuat Pengamanan Perbatasan dengan Maroko - BeritaEropa.com. Next post Wali Kota Ceuta Desak Spanyol Perkuat Pengamanan Perbatasan dengan Maroko