Sejumlah negara di Eropa mulai mengkhawatirkan meningkatnya ketergantungan energi terhadap Amerika Serikat setelah Uni Eropa secara bertahap menghentikan impor energi dari Rusia. Kekhawatiran tersebut muncul di tengah meningkatnya porsi pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) asal Amerika Serikat ke kawasan tersebut.
Berdasarkan laporan The New York Times, pemasok energi Amerika Serikat saat ini menyumbang sekitar dua pertiga dari total impor LNG Eropa. Pangsa tersebut bahkan diperkirakan dapat meningkat hingga 80 persen pada akhir dekade ini apabila tren impor saat ini terus berlanjut.
Peningkatan impor tersebut terjadi setelah negara-negara Eropa mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap energi Rusia sebagai bagian dari kebijakan diversifikasi pasokan energi.
Kekhawatiran Muncul di Kalangan Pemimpin Eropa
Meski berhasil mengurangi ketergantungan pada Rusia, sejumlah pemimpin di sektor pertahanan dan energi menilai kondisi tersebut dapat memunculkan tantangan baru.
Mereka khawatir pengalihan sumber pasokan energi dari Rusia ke Amerika Serikat justru membuat Washington memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kebijakan energi domestik negara-negara Eropa.
Ketergantungan yang terlalu besar kepada satu pemasok dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dan fleksibilitas kebijakan energi Uni Eropa di masa mendatang.
Uni Eropa Hentikan Impor Energi Rusia
Pada Januari 2026, Dewan Uni Eropa menyetujui regulasi yang mengatur penghentian secara bertahap impor LNG dan gas pipa dari Rusia.
Sesuai ketentuan tersebut, larangan impor LNG berdasarkan kontrak jangka pendek mulai berlaku pada 25 April 2026.
Sementara itu, penghentian impor berdasarkan kontrak jangka panjang dijadwalkan mulai diterapkan pada 1 Januari 2027 sebagai bagian dari strategi Uni Eropa untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi Rusia.
Diversifikasi Pasokan Jadi Tantangan
Para pengamat menilai kebijakan diversifikasi energi memang penting untuk meningkatkan ketahanan energi kawasan. Namun, mereka juga menekankan perlunya memperluas sumber pasokan dari berbagai negara agar Eropa tidak kembali menghadapi risiko ketergantungan terhadap satu pemasok utama.
Selain meningkatkan impor LNG dari Amerika Serikat, sejumlah negara Eropa juga terus berupaya memperluas kerja sama energi dengan kawasan Timur Tengah, Afrika, dan negara-negara lain, serta mempercepat pengembangan energi terbarukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Di tengah dinamika geopolitik global dan perubahan kebijakan energi internasional, Uni Eropa diperkirakan akan terus mencari keseimbangan antara menjaga keamanan pasokan energi, mengurangi ketergantungan pada satu negara pemasok, serta mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
